Kamis, 29 November 2012

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH



PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH


Pendidikan luar sekolah adalah usaha sadar yang diarahkan untuk menyiapkanr meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia, agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan daya saing untuk merebut peluang yang tumbuh dan berkembang. dengan mengoptimalkan penggunaan sumber-sumber yang ada di lingkungannya.

Pendidikan luar sekolah adalah satu proses pendidikan yang sasaran, pendekatan, dan keluarannya berbeda dengan pendidikan sekolah, dan bukan merupakan pendidikan sekolah yang dilakukan di luar waktu sekolah. Pendidikan luar sekolah sudah ada sebelum pendidikan persekolahan tumbuh di bumi ini. Pendidikan luar sekolah dimulai sejak manusia lahir di bumi dan berakhir setelah manusia masuk liang kubur. Sedangkan pendidikan sekolah dimulai setelah manusia memenuhi usia tertentu dan diakhiri pada usia tertentu.

Pendidikan luar sekolah bertugas untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kebisaan yang siap menghadapi perubahan sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat yang dihasilkan oleh manusia-manusia terdidik juga. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan luar sekolah adalah suatu proses pendidikan masyarakat yang lebih rumit daripada pendidikan sekolah, walaupun kedua sistem ini dapat dan harus saling mendukung, saling mengisi.

Pendidikan luar sekolah dapat dikatakan sebagai proses memanusiakan manusia untuk meningkatkan kualitas berpikir, moral dan mental sehingga mampu memahami, mengungkapkan, membebaskan. dan menyesuaikan dirinya terhadap realitas yang melingkupinya. Pola pikir ini mewarnai pendekatan pendidikan luar sekolah yang ada di dalam masyarakat.

Dalam kerangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan berorientasi masa depan yang akan menjadi pilar utama pembangunan di berbagai sektor, pendidikan luar sekolah dapat memegang peranan yang sangat strategis. Pendidikan luar sekolah baik yang dilaksanakan pemerintah maupun yang dilaksanakan swasta ataupun masyarakat. dalam arti mereka yang tertarik melakukan pendidikan yang berorientasi masa depan melalui pendidikan luar sekolah dapat mengambil peran yang lebih nyata di masyarakat.

Empat hal yang menjadi acuan pengembangan pendidikan luar sekolah (1) memperluas pelayanan kesempatan memperoleh pendidikan bagi masyarakat yang tidak dibelajarkan pada jalur pendidikan sekolah, (2) meningkatkan relevansi, keterkaitan dan kesepadanan program-program pendidikan luar sekolah dengan kebutuhan masyarakat, kebutuhan pembangunan. Kebutuhan dunia kerja, pengembangan industri dan ekonomi masyarakat dan pengembangan sumber daya alam; (3) peningkatan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan luar sekolah; serta (4) meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan luar sekolah.

Empat hal di atas, apabila dicermati, sebenarnya mengandung arti bahwa pendidikan luar sekolah harus berorientasi ke masa depan. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut pelembagaan pendidikan luar sekolah di masyarakat menjadi suatu tuntutan yang mendesak untuk dilakukan. Misi ini dilaksanakan guna membantu percepatan tercapainya individu dan masyarakat yang cerdas, terampil, disiplin, berdaya saing dan gemar membaca.

Pemberdayaan menjadi acuan dalam melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan untuk mewujudkan masyarakat yang mumpuni. Dengan demikian masyarakat tidak diposisikan sebagai obyek sasaran layanan pendidikan, tetapi diposisikan sebagai subyek yang aktif. Masyarakat dilibatkan dalam merancang, melaksanakan, mengembangkan, melembagakan, membiayai kebutuhan pendidikan yang diperlukannya, sebagai wujud dari upaya untuk mengaktualisasikan pemberdayaan masyarakat guna menghasilkan masyarakat yang cerdas, terampil dan mandiri sebagai prasyarat masyarakat yang mampu menghadapi masa depan.


Peran Pendidikan Luar Sekolah.

Pendidikan luar sekolah sebagai sub sistem dalam sistem pendidikan nasional Indonesia harus memainkan peran ganda baik mendidik maupun mengajar. Hal ini sangat sulit dilaksanakan mengingat binaan pendidikan luar sekolah sangat heterogen baik usia, geografi, ekonomi dan sosial. Untuk dapat berperan maksimal baik sebagai pengajaran maupun pendidikan diperlukan kesiapan sikap mental dan pengetahuan yang dalam dan luas di bidang kemasyarakatan. Hal itu bukan merupakan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan asal ditemukan cara pengelolaan yang tepat, strategis yang memadai, sumber daya pengelola yang mumpuni dan kelembagaan yang mapan. Dengan kata lain, hal itu dapat diwujudkan oleh pendidikan luar sekolah apabila sistem ini ditumbuh-kembangkan dengan manajemen strategi yang tepat. Pendidikan luar sekolah hanya berfungsi sebagai pengajaran apabila strategi yang ditempuh hanya ditujukan untuk memintarkan orang, karena itu perlu adanya pergeseran pola pikir dan pola tindak.

Pada kenyataannya pendidikan luar sekolah tidak hanya melakukan aspek pengajaran, namun lebih daripada itu. Hal ini dapat dicapai kalau pemerintah memiliki perhatian yang sama, baik pada pendidikan sekolah maupun pada pendidikan luar sekolah.

Sayangnya selama ini perhatian pemerintah terhadap pendidikan luar sekolah masih sedikit. Karena itu pendidikan luar sekolah mampu memberi kontribusi yang sangat sedikit pada pendidikan nasional.

Apabila para perancang pendidikan menyadari bahwa pendidikan sekolah belum mampu memberi pelayanan pendidikan dan pengajaran kepada seluruh warga negara, dan jalur persekolahan masih terus menghasilkan putus belajar yang jumlahnya cukup besar setiap tahun yang berarti akan terus terakumulasi, maka kalau tidak ada jalur yang menanganinya, suatu saat pendidikan nasional akan kewalahan melihat fakta banyaknya orang Indonesia yang tidak terlayani oleh pendidikan. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah harus memperkuat peran pendidikan luar sekolah sehingga mampu memberi pelayanan Pendidikan bagi mereka yang kurang.

Kendala anak putus sekolah atau tidak bersekolah kadang-kadang bukan hanya karena faktor ekonomi tetapi juga dihadapkan oleh kenyataan bahwa setetah selesai sekolah banyak Siswa yang hanya menjadi penganggur, sehingga orang tua yang mempunyai harapan pada anak-anaknya menjadi ciut dan memiiih anak langsung ikut kerja daripada sekolah. Di sisi lain faktor lemahnya ekonomi keluarga memilih peran yang kuat yang menyebabkan orang tua memilih menyuruh anak untuk mencari nafkah daripada sekolah. Sekolah ternyata tidak menyiapkan anak untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup di masyarakat. Hal ini sebenarya dapat ditanggulangi melalui pendidikan luar sekolah. namun kemampuan yang terbatas membuat pendidikan luar sekolah seperti tidak berdaya dan kinerjanya seperti tidak kelihatan.

Kurangnya perhatian pada jalur pendidikan luar sekolah terjadi karena beberapa hal. antara lain karena orang-orang yang merancang strategi pendidikan kurang melihat kenyataan di lapangan bagaimana masalah putus sekolah terjadi. Tidak mau sekolah dan tidak disuruh sekolah menjadi. Kendala yang akan sangat mengganggu dalam penyiapan sumber daya manusia yang handal untuk mendukung pembangunan. Mereka yang merancang pendidikan mungkin tidak mau tahu dengan keterbelakangan yang dialami oleh mereka yang tidak terlayani oleh pendidikan sekolah. Mereka masa bodoh dengan kebodohain sementara mereka sendiri sudah mengenyam pendidikan yang tinggi. Mereka kurang peduli pada orang yang kurang mampu. Mereka belum melihat bagaimana peran pendidikan luar sekolah di masyarakat. atau sudah melihat dan mengakui pentingnya pendidikan luar sekolah tetapi tidak perduli, dan masih banyak alasan lainnya.

Orang banyak berbicara tentang pendidikan alternatif, dengan mencoba menciptakan pola baru yang lain dari pola sekolah Sebenarnya tidak perlu capai dan bingung membahas pendidikan altematif karena dua jalur yang diciptakan pemerimah melalui Undang-undang No 2 tersebut sudah jelas bahwa tidak perlu ada pemikiran lain tetapi cukup memberdayakan pendidikan luar sekolah. Pendidikan jenis apapun yang tidak ada pada jalur pendidikan sekolah dapat dikembangkan pada jalur pendidikan luar sekolah. Bukankah jalur pendidikan luar sekolah itu tidak harus berjenjang dan dapat dilakukan sesuai dengan kondisi masyarakat. Jadi bukan mencari pola yang lain tetapi seharusnya para pemikir atau mereka yang mengatakan dirinya pakar menyumbangkan pemikirannya untuk memperkuat apa yang sudah ada daripada membuat yang baru yang belum terpola dan teruji.

Sudah semakin jelas bagaimana pentingnya peran pendidikan luar sekolah di dalam sistem pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diperlukan sekarang hanyalah kemauan daripara penentu untuk memberi perhatian kepada mereka yang tidak beruntung pendidikannya. Umumnya mereka tinggal jauh di pedesaan dan biasanya tingkat kemampuan ekonominya tergolong cukup memprihatinkan kalau Tidak dapat dikatakan terabaikan. Pendidikan luar sekolah membelajarkan mereka yang tidak dibelajarkan oleh sistem persekolahan. Karena itulah pendidikan luar sekolah bukan diciptakan untuk menyaingi tetapi mendukung sistem persekolahan. Pendidikan Luar sekolah membuka berbagai jenis dan pola pendidikan dan pengajaran bagi siapapun yang tidak mendapat kesempatan pada jalur pendidikan sekolah, serta bagi mereka yang walaupun sudah ikut program persekolahan namun masih memerlukan tambahan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tidak diperoleh pada jalur sekolah.


Arah Perkembangan Pendidikan Luar Sekolah.

Pola pikir yang mengarah pada pendekatan pengutamaan pelayanan terbaik dalam bidang pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat, perlu ditimbulkan dalam diri setiap perencana dan pelaksana pendidikan Luar sekolah. Pola pikir yang menentukan ragam program yang harus ada di masyarakat walaupun bukan diinginkan masyarakat sudah harus ditinggalkan Amat tidak mungkin seseorang yang tidak pernah tinggal dan hidup dalam suatu lingkungan masyarakat, akan memutuskan apa yang diinginkan msyarakat tersebut. Oleh karena itu pendidikan luar sekolah dalam berperan hendaklah mengutamakan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengenal kekuatan dan potensi yang ada di lingkungannya dan kemampuan untuk memutuskan apa yang akan dilakukannya. Pendidikan luar sekolah melalui program yang dikembangkan harus mengarah pada usaha membuat masyarakat itu mampu untuk melihat potensi, merencanakan kegiatan dan merumuskan pelaksanaannya.

Sistem kerja yang dianut selama ini kelihatannya belum mengarah pada usaha pemberian pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, tetapi Iebih menonjolkan pada kekuasaan yang dimiliki oleh para petugas pemerintah di bidang pendidikan Luar sekolah. Hal ini dengan mudah dapat kita lihat dan pola perencanaan yang terpusat, pendistribusian dana dan program yang birokratis serta penjatahan program walau tidak selalu sesuai dengan apa yang diperlukan oleh suatu lokasi. Akibat dari hal ini warga belajar ikut bukan karena memerlukan tetapi hanya karena diminta untuk ikut. Pola seperti ini sudah sangat tidak sesuai dengan tuntutan masyarakat dan kalau ini masih akan diteruskan maka pendidikan luar sekolah hanya akan mubajir dan tidak bermakna untuk kehidupan masyarakat. Kalau bukan itu yang diinginkan, maka pola pendekatannya perlu diubah.

Situasi tersebut akan terus berkembang apabila pendidikan luar sekolah tidak mengembangkan dan merumuskan visi, misi tujuan dan strategi yang akan digunakan sebagai acuan dalam berkarya di masyarakat. Selama visi pendidikan luar sekolab tidak dirasakan menjadi milik semua masyarakat luar sekolah. maka pola pengembangan program akan tetap mengacu pada keinginan, kehendak dari si perencana. bukan keinginan dan kehendak masyarakat. Visi yang jelas dan dihayati serta disepakati untuk dicapai akan membentuk suatu kekuatan tersendiri. Karena jelasnya arah yang akan ditempuh.

Visi bukanlah sesuatu yang hanya dibuat supaya kelihatan mengikuti perkembangan. Visi digali dan dikembangkan dari filsafat dasar yang dianut oleh suatu lembaga yang mengembangkan visi tersebut. Dalam mengembangkan visinya, pendidikan luar sekolah tentu harus menggali dari kerangka dasar pendidikan nasional secara menyeluruh. Visi pendidikan luar sekolah tidak mungkin menyimpang dari induknya, karena pendidikan luar sekolah melaksanakan sebagian mandat pendidikan nasional. Visi pendidikan luar sekolah harus dibangun dalam kerangka usaha memperkuat apa yang digariskan di dalam mandat tersebut.

Misi adalah tugas yang diemban dan harus dilaksanakan dengan prinsip pokok yang harus dipegang dalam mewujudkan apa yang telah digariskan di da!am visi. Dengan demikian, misi dijabarkan dari visi dan bukan serpihan-serpihan tetapi suatu kesatuan yang utuh dan saling terkait yang dapat menjamin tercapainya hal-hal yang sudah digariskan. Misi menjadi kerangka acuan dalam melangkah dan bergerak. Untuk membantu para perencana dalam menentukan kegiatan untuk mewujudkan misi yang telah digariskan, dikembangkanlah apa yang disebut tujuan.

Suatu organisasi atau lembaga pada umumnya menentukan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasinya setelah mereka berhasil merumuskan visi dan misi. Oleh karena itu, tujuan adalah penjabaran dari usaha untuk mewujudkan misi. Tujuan sering dibagi antara tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum biasanya masih bersifat besaran yang belum terukur, namun pada tujuan khusus sudah jelas apa yang ingin dicapai dan benar-benar terukur. Dalam arti dapat dilihat, dihitung, karena harus menjadi kerja pada periode tertentu, sehingga seluruh potensi dikerahkan untuk mencapai hal-ha! yang digariskan di dalam tujuan khusus itu.

Apabila pola pikir di atas diikuti secara cermat, maka sebenarnya visi, misi dan tujuan adalah sasaran-sasaran yang akan dicapai oleh suatu organisasi dengan menggunakan segala daya dan upaya yang dimiliki oleh organisasi tersebut. Hanya dengan visi, misi dan tujuan yang jelas suatu organisasi dapat menentukan cara pengelolaan, strategi dan kebijakan yang tepat dalam kancah perjuangannya. Karena itulah pendidikan luar sekolah harus dengan jelas merumuskan visi. misi dan tujuannya, agar dapat di tentukan strategi yang tepat dalam usaha membuktikan keberadaan, kemantapan dan perlunya pendidikan luar sekolah. Dengan berbuat demikian, maka orang tidak lagi melihat pendidikan luar sekolah dengan sebelah mata karena tidak jelas apa sasarannya.

Bertitik tolak dari pola pemikiran di atas, maka pendidikan luar sekolah harus diarahkan untuk mewujudkan usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Misalnya terwujudnya masyarakat yang cerdas, terampil, mandiri, berdaya saing dan gemar belajar. Dengan visi ini dapat dijabarkan misi dan tujuan yang jelas.



Pendidikan Luar Sekolah dan Perwujudannya.

Kalimat yang digunakan dalam menentukan tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa bukan mencerdaskan bangsa. Kalimat tersebut membawa konsekuensi dan tuntutan yang sangat luas dan berat bagi para perencana, pengelola pendidikan dan pengajaran, karena kata-kata “kehidupan” membawa makna cakupan seluruh aspek kehidupan, tidak cukup hanya cerdas dalam ilmu tertentu tetapi cerdas juga dalam menerapkan dan memanfaatkannya dalam kehidupan dan lingkungan sehingga dapat membawa perbaikan dalam kehidupan pribadi dan bangsa secara keseluruhan.

Sadar atau tidak, para perencana dan pelaksana pendidikan selama ini lebih menunjukkan warna pengajaran yang mengarah pada pengembangan intelektual. Dengan kata lain, lebih mengutamakan aspek kognitif yang ternyata lebih menghasilkan manusia-manusia yang pintar tetapi tidak bijak, tidak tahan uji dalam manghadapi kesulitan-kcsulitan hidup, tidak mampu melihat peluang dalam setiap masalah yang dihadapi. Hal ini yang menyebabkan banyak anak didik gampang frustasi, mencari jalan atas dalam menghadapi persoalan, terjerumus pada apa yang disebut dengan Narkoba, perkelahian antar remaja, pengrusakan sarana umum dan lain-lain. Pendidikan harus melihat kembali hakekat yang hakiki dari pendidikan yaitu pembentukan watak, sikap mental, dan bukan pemintaran melalui pengajaran. Memang adakalanya dalam proses, kedua sisi ini tidak dapat dipisahkan, namun apapun alasannya kedua aspek ini harus dapat dibedakan hingga usaha mewujudkan tujuan pendidikan nasional dapat tercapai.

Pendidikan luar sekolah sebagai salah satu jalur pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah, seharusnya menerapkan strategi yang mengutamakan pengajaran, tetapi harus mencari strategi yang menjamin pendidikan dan pengajaran berjalan seimbang agar dapat menghasilkan sosok sumber daya manusia yang memiliki intelektual, moral dan emosional yang seimbang.

Pendidikan luar sekolah yang berkiprah di masyarakat dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa telah memperkenalkan visi dan misi yang jelas. Visi yang ingin dijadikan acuan adalah terwujudnya masyarakat yang cerdas, terampil, mandiri, berdaya saing dan gemar belajar. Visi tersebut dijabarkan menjadi misi antara lain melaksanakan pendidikan anak dini usia, pendidikan dasar, pendidikan berkelanjutan dan pendidikan perempuan. Program-program tersebut untuk aspek pendidikannya kelihatannya belum dirancang secara sistematis. Hal dengan jelas kelihatan dari cara pembelajaran yang sering menekankan aspek kognitif, sehingga hasil-hasil yang dicapai hanya aspek akademis. Kemungkinan besar faktor penyebabnya adalah kurangnya dukungan dan perhatian pemerintah terhadap jalur yang penting ini.

Apabila kita sadar betapa pentingnya peran pendidikan luar sekolah dalam menghantarkan bangsa ini untuk menghasilkan manusia-manusia yang memiliki kecerdasan akademik dan emosional yang diperlukan dalam mengarungi kehidupan. maka perhatian terhadap jalur ini seharusnya akan semakin bertambah.

Setiap tahun pasti ada anak yang putus sekolah dan setiap tahun ada anak yang tidak bersekolah serta tidak melanjutkan sekolahnya. Setiap tahun ada anak yang lulus sekolah menjadi penganggur. Pendidikan jalur sekolah belum mampu untuk menjawab tantangan dalam dunia pendidikan secara sendiri, dia memerlukan jalur lain. Sebagai ilustrasi, apabila pada lahun 1999 ada putus sekolah SLTP 500 000 orang sedangkan yang dapat dibelajarkan melalui jalur pendidikan luar sekolah hanya 50000 orang maka dalam tempo 5 tahun yang akan datang akan ada sekitar 3.000 000 orang yang tidak berpendidikan SLTP atau setara, apakah mereka ini mau dibiarkan. Tentu diperlukan pengkajian kembali ilustrasi di atas baru satu aspek, bagaimana dengan yang lain. Pertanyaan ini yang perlu dipikirkan dan dijawab oleh para perencana pendidikan dan pengajaran, apabila tidak menginginkan sumber daya manusia semakin terpuruk

Tantangan dan Peluang Pendidikan Luar Sekolah

Apabila diperhatikan Peraturan Pemerintah No. 27/90 tentang Pendidikan Prasekolah dan No 73/1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah, tercermin bahwa pendidikan luar sekolah rnemiliki cakupan bidang tugas yang sangat luas mulai dari anak dini usia sampai orang dewasa, tanpa ada batas usia. Hal ini sudah merupakan tantangan sekaligus peluang yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para perancang dan pemikir yang tertarik pada pendidikan luar sekolah.


Sasaran

Mengacu pada data yang tersedia (Dit Dikmas 1999} terlihat jumlah sasaran pendidikan luar sekolah cukup besar dan benar-benar sangat memerlukan perhatian dari penggagas pendidikan, kalau tidak ingin melihat sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki akan semakin terpuruk di kemudian hari. Sasaran dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Masyarakat miskin.

2. Pengangguran, karena PHK bertambah banyak akibat usaha-usaha yang ditutup.

3. Jumlah penduduk buta huruf, anak tidak sekolah/tidak terlayani oleh pendidikan dan putus sekolah semakin banyak:

a. Penduduk buta huruf usia 10-44 tahun dan usia 45 tahun ke atas.

b. Penduduk dini usia (0-6 tahun) yang belum terlayani program apapun.

c. Anak usia 7-12 tahun yang tidak sekolah, dan putus sekolah.

Dengan demikian jumlah anak usia sekolah yang masih harus dilayani kebutuhan belajarnya.

d. Anak usia 13-15 tahun yang tidak pernah sekolah, putus sekolah, dan lulus tidak melanjutkan.

e. Penduduk usia 16-29 tahun.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar